Sejak tiga tahun, warga sungai pisang dihantui ancaman abrasi

Bibir pantai di Kelurahan Sungai Pisang kian tergerus dengan semakin ganasnya abrasi pantai sejak tiga tahun terakhir. Masyarakat kian cemas setelah garis pantai sudah mulai masuk ke tengah rumah. Alhasil, puluhan rumah yang berdiri, mengalami kerusakan rata-rata 25-50 persen. Bahkan ada beberapa rumah yang sudah ditinggalkan pemiliknya karena tak layak lagi untuk dihuni.

Pantauan KabaSumbar.com di Sungai Pisang, ombak laut sudah menghantam dinding belakang rumah penduduk. Bahkan sumur-sumur tidak bisa lagi digunakan karena sudah tertutup pasir. Beberapa penduduk, masih bertahan didalam rumah dengan membuat pemecah ombak sederhana dari pohon kelapa di belakang rumah. Namun, tetap saja, air menggenangi dan merusak rumah.

Rumah yang terbuat dari kayu, masih sedikit kokoh berdiri. Hanya reot dan papan-papan untuk dinding yang mulai terlepas dan lapuk karena setiap hari dihantam ombak. Berbeda dengan nasib rumah permanen yang rata-rata hancur dan hanya meninggalkan onggokan batu tembok dan pondasi.

Salah seorang pemuka masyarakat, Sasti Karman Dt Rajo Kamuyang menuturkan ancaman abrasi di Sungai Pisang sudah mulai dirasakan sejak tahun 2014 . Saat itu, sudah disuarakan kepada Camat Bungus Teluk Kabung dan sampai sekarang tidak ada respon.

“Tahun 2014 lalu masyarakat sudah pernah menyalurkan aspirasi ini ke pak Camat. Tapi hanya sekedar surat dan surat saja yang keluar. Aksi nyata untuk mengatasi abrasi ini belum juga terlihat sampai sekarang,” kata Sasti kepada KabaSumbar.com, Sabtu (25/11) saat dijumpai di Sungai Pisang.

Dikatakan Sasti, tahun 2014, masyarakat pernah mengukur jarak antara bibir pantai dengan sumur yang terdekat dengan pantai dan hasilnya berjarak 20 meter. Sekarang, sumur yang menjadi objek pengukuran sudah berada di laut. Kondisi ini sudah membuat masyarakat khawatir, apalagi saat terjadi hujan badai dan moment bulan purnama.

“Sejak tiga tahun belakangan inilah, ada sekitar 25 meter daratan kami habis karena abrasi. Contohnya saja, ada sumur yang sudah di laut. Padahal dulu saat diukur, sekitar 20 meter antara sumur dengan garis pantai. Ombak-ombak sudah membuat kenyamanan kami terganggu. Apalagi saat bulan Purnama dan Badai, biasanya kami mengungsi,” katanya.

Dijelaskannya, momentum laut pasang seperti bulan purnama dan pergantian bulan menjadi momok bagi masyarakat. Ombak bisa mencapai 2 meter dan mencapai pemukiman padat penduduk.

“Biasanya kalau purnama penuh dan pergantian bulan yang paling parah. Soalnya pasang laut bisa sampai tujuh hari. Bahkan Purnama penuh kami prediksi akan datang awal Desember besok,” katanya.

Ketua Badan Musyawarah Kelurahan Sungai Pisang, Hasan Leni menuturkan saat ini masyarakat sangat butuh bantuan sea wall atau batu grip untuk menangkal ancaman abrasi. Ditambah lagi, yang menjadi daerah terparah terkena abrasi adalah pintu masuk ke objek wisata pulau yang sedang populer di kota Padang.

“Ada sekitar 600 meter bibir pantai yang menjadi pintu bagi wisatawan untuk ke pulau-pulau wisata. Bibir pantai ini yang rusak karena abrasi. Kami warga Sungai Pisang sangat butuh Sea Wall atau Batu Grip pemecah ombak,” katanya Hasan.

Dari dari Bamus, saat ini rumah yang rusak akibat abrasi sudah mencapai 12 unit dengan kerusakan antara 25 hingga 100 persen. Dari 12 unit ini hanya empat rumah saja yang masih dihuni. Sedangkan yang lain sudah ditinggal pemiliknya karena kerusakan rumah sudah diatas 50 persen.

Melihat kondisi seperti ini, masyarakat berencana menyurati Gubernur Sumateta Barat agar berkenan membantu masyarakat Sungai Pisang dan Objek Wisata Unggulan Kota Padang.

“Kami sudah mengirim surat bantuan ke Walikota seminggu yang lalu. Dalam minggu depan kami kirim ke Gubernur. Semoga pemerintah cepat tanggap. Ini persoalan kenyamana hidup masyarakat banyak dan objem wisata. Jika diabaikan, akan ada 300 lebih rumah yang akan terdampak abrasi dan dipastikan 2.800 jiwa akan mengungsi,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.