Pro kontra sebelum hadir Holding Pertambangan BUMN

Pemerintah tengah menggodok pembentukan holding Badan Usaha Milik Negara di sektor pertambangan atau Holding BUMN Tambang, meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Keputusan ini akan difinalkan pada 29 November saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) ketiga BUMN tersebut.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada, Tony Prasetiantono menilai, rencana pembentukan holding pertambangan tidak cukup efektif jika dasarnya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus kinerja BUMN di sektor pertambangan. Sebab, pembentukan holding ini akan menimbulkan masalah baru khususnya di sisi manajemen.

“Coba lihat, holding semen juga ngak efektif karena mereka (anak usaha SMGR) masih bawa entitas masing masing dan membawa budaya organisasi masing-masing. Jadi holding itu sekarang hanya forum rapat saja,” ujar Tony di Gedung BEI, Senin (20/11).

Namun demikian, Direktur Pelaksana Lembaga Management FEB Universitas Indonesia, Toto Pranoto menyebut bahwa rencana pemerintah membentuk holding pertambangan sudah tepat. Sebab, upaya ini ditengarai menciptakan banyak nilai tambah berupa sinergi dalam aspek operasional, keuangan, serta kerja sama lainnya.

“Dalam pareto condition BUMN saat ini, pembentukan holding company menjadi salah satu opsi rightsizing yang tepat. Span of control pengawasan dan monitoring terhadap BUMN bisa lebih baik karena jumlah yang diawasi berkurang,” kata Toto seperti dikutip dari Antara.

Dalam jangka panjang menurutnya, fungsi Kementrian BUMN mungkin secara perlahan akan dikurangi sampai pada tahap hanya sebagai regulator saja. Fungsi operasional sepenuhnya dikelola Super Holding Company.

“Saya tidak sependapat dengan pihak yang menyatakan bahwa untuk meningkatkan efesiensi manajemen BUMN tambang itu lebih tepat di merger, bukan holding. Kenapa? Karena organisasi holding dan merger adalah dua hal yang berbeda,” kata dia.

Toto menjelaskan, dengan holding berarti ada induk perusahaan dan anak perusahaan. Sementara merger berarti ada empat BUMN digabungkan atau dilebur menjadi satu entitas baru. Contoh Bank Mandiri adalah entitas baru dari peleburan Bank Exim, BDN, BBD dan Bapindo.

Menurut Toto, proses pembentukan Holding Company di BUMN sudah mengalami revolusi dari model Operating Holding menjadi Strategic Holding. Contoh Semen Indonesia dan Pupuk Indonesia. Selama belasan tahun mereka beroperasi sebagai operational holding (Semen Gresik Holding dan Pusri Holding) dan tidak bekerja secara efektif karena induk dan anak perusahaan compete head to head.

Dengan pola strategic holding yang mulai diterapkan pada 2012 , maka fungsi koordinasi induk dalam mensinergikan seluruh kekuatan anak perusahaan berjalan lebih baik. Induk fokus pada fungsi pengarahan strategis, bimbingan keuangan dan penciptaan nilai pada bisnis (sinergi), misal dengan langkah mengurangi duplikasi aktivitas (pooling pengadaan, logistic dan fungsi pemeliharaan) sehingga Cost bisa ditekan.

Sementara anak perusahaan fokus pada pengembangan bisnis dan peningkatan distinctive competencies pada aspek operasional. Dengan cara ini Semen Indonesia berhasil meningkatkan “Value of the Firm”. Tingkat produksi semen Indonesia meningkat dari sekitar 15 juta ton pada 2005 menjadi sekitar 26 juta ton pada 2015. Operating Income meningkat dari sekitar Rp 4 trilun di 2005 melonjak menjadi sekitar Rp 15 triliun pada 2015.

“Holding mampu meningkatkan value dari korporasi dibandingkan mereka stand alone atau dikelola dengan model operating holding. Sedangkan bentuk merger akan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk berhasil mengkonsolidasikan diri sebagai perusahaan yang solid dan kuat,” papar Toto.

Pada aspek lain, menurut Toto, opsi merger pun membutuhkan penanganan yang sangat kritis pada proses Post Merger Integration (PMI). Misalnya, bagaimana menyatukan visi entitas baru, mengkonsolidasikan budaya perusahaan baru, serta standarisasi seluruh fungsi operasional entitas baru. Proses ini membutuhkan waktu panjang dan model kepemimpinan yang super kuat.

Namun demikian, Toto menegaskan tidak setuju jika merger dianggap menjadi pilihan yang buruk. Sebab, kenyataannya tidak selalu begitu. “Namun, survey Raymond Noe (2002) menemukan bahwa 60 hingga 80 persen dari seluruh merger yang dilakukan perusahaan di AS mengalami kegagalan finansial,” kata Toto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.