Mobil listrik bakal jadi solusi transportasi terbaik untuk lingkungan

- Tweet this Article - Stumble this Article - Digg this Article - Share this Article -

Mobil listrik adalah salah satu solusi untuk menyelamatkan Bumi, dengan pemanfaatan listrik yang bisa diproduksi lewat energi yang bisa diperbaharui, ketimbang bahan bakar bensin yang tak bisa diperbaharui.

Seperti kita tahu, listrik bisa diproduksi lewat energi yang terbarukan, seperti angin, tenaga surya, lewat tekanan air seperti di PLTA, ataupun bahkan nuklir. Sementara bensin yang kita pakai sehari-hari, diproduksi dari minyak Bumi yang suatu saat bisa habis. Kendaraan bensin pun berkontribusi dalam emisi karbon dan polusi udara.

Akhirnya, tak bisa dipungkiri bahwa mobil listrik akan jadi masa depan transportasi dunia. Nama besar di industri transportasi pun terjun dan berkomitmen untuk memproduksi mobil listrik, dan mengakhiri pembuatan kendaraan berbasis bensin.

Untuk saat ini saja, di negara-negara barat, bahkan di Asia, sudah banyak pengguna mobil listrik dari merek-merek yang diproduksi masal seperti Tesla, Chevy Bolt, atau Nissan Leaf.

Di Indonesia, mobil hibrida sudah mulai didemokan, lewat Nissan Note e-Power Medalist besutan produsen asal Jepang, Nissan.

Pada 2019 hingga 2023 mendatang, juga disebut sebagai transisi para produsen mobil untuk mengakhiri era mobil bensin. Diharapkan di atas tahun 2023, jalanan dipenuhi mobil baru yang berbasis listrik. Di dekade mendatang, diharapkan mobil bensin sudah tidak ada.

Namun permasalahannya, solusi hijau untuk energi yang tidak dapat diperbaharui ini juga punya efek samping. Ternyata, mobil listrik tak seberapa ramah lingkungan.

Memang mobil listrik tidak menghasilkan emisi karbon, namun banyak sekali CO2 yang dihasilkan oleh mobil berbaterai tersebut.

Sebuah studi yang dihelat oleh IVL Swedish Inveronmental Research Institute menyebutkan bahwa produksi baterai mobil listrik melepaskan karbon dioksida dalam jumlah besar.

Ambil contoh mobil Tesla Model S yang memiliki baterai 100 kilowatt jam. Tiap produksi sebuah baterai per kilowatt jamnya, menghasilkan 150 hingga 200 kilogram karbon dioksida. Jadi, satu buah mobil Tesla Model S sudah memproduksi 15 hingga 20 ton karbon dioksida bahkan sebelum dibeli.

Meski demikian, baterai Lithium-ion yang dipakai di mobil listrik ini, memiliki lebih banyak manfaat. Mulai dari kepadatan energi yang lebih tinggi, rentang hidup yang lebih lamam serta kepadatan daya yang lebih tinggi. Jadi, bahkan frekuensi kita mengecas mobil listrik akan jauh lebih sedikit ketimbang kita mengisi bensin biasanya.

Tertarik mobil listrik?

Artikel Terkait :

admin