Ditjen Gakkum KLHK RI panggil saksi kerusakan kawasan Mandeh

Kasus perusakan sejumlah kawasan strategis di Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), tak lama lagi akan menemui titik terang. Pasalnya, Tim Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen Gakkum KLHK) kembali mengunjungi Pessel untuk melengkapi sejumlah berkas dan data di lapangan, yang disertai dengan pemanggilan ulang saksi terkait sejumlah kerusakan tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pessel, Nelly Armidha, membenarkan kedatangan rombongan itu ke Pessel, yang masih sekaitan dengan kerusakan yang terjadi di kawasan strategis Mandeh. Dari itu, pihak Ditjen Gakkum KLHK akan memanggil ulang saksi dan mengumpulkan kembali data-data sejumlah kerusakan di kawasan strategis Mandeh.

“Benar, sesuai informasi yang kita terima dari pihak Ditjen Gakkum KLHK. Mereka akan menginap di Pessel selama tiga hari, (Rabu sampai Sabtu). Tujuannya, sekaitan dengan pemanggilan ulang saksi dan melakukan peninjauan ke kawasan Mandeh,” sebut Nelly kepada awak media di kantornya, Kamis (19/10).

Lebih dijelaskannya, hingga saat ini kasus perusakan mandeh yang melibatkan sejumlah oknum pejabat tersebut, telah menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah publik. Malah informasi itu sudah sampai ke meja Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.

Oleh sebab itu, sesuai Surat Perintah Penyidikan (Sperindik) yang dikeluarkan pertengahan September lalu, kasus perusakan Mandeh merupakan agenda prioritas yang harus dituntaskan oleh Ditjen Gakkum KLHK.

“Pada intinya pihak Ditjen Gakkum KLHK benar-benar serius menangani kasus ini. Buktinya, masih tetap diupayakan pemanggilan ulang saksi untuk melengkapi sejumlah berkas dan bukti-bukti di lapangan. Namun, sampai saat pukul 18.00 WIB tadi, saksinya belum datang-datang juga,” sebut Nelly.

Lebih lanjut kata dia, pemanggilan ulang saksi yang dilakukan oleh pihak Tim Ditjen Gakkum KLHK adalah untuk memastikan dan menyamakan persepsi. Seperti, yang disampaikan saksi beberapa waktu lalu. Sebab, dari keterangan saksi sebelumnya, masih banyak ditemui sejumlah kejanggalan yang tak sesuai dengan data dan fakta di lapangan.

“Kalau saksi tidak datang hari ini (Rabu), berarti dia sendiri yang akan merugi nantinya. Pada saat-saat seperti inilah, seharusnya saksi hadir dan memberikan keterangan sesuai dengan fakta di lapangan, guna untuk kebaikan mereka juga,” katanya.

Informasi dihimpun awak di lapangan, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum dari Kementarian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut, diketahui sampai di Kantor DLH Pessel sekitar pukul 15.00 WIB. Namun, rombongan yang awalnya dikabarkan akan datang sebanyak enam orang itu, yang datang hanya tiga orang saja, dan salah satunya adalah perempuan.

“Kami dari Direktorat Jenderal Penegakan Hukum dari Kementarian Lingkungan Hidup dan Kehutanan semuanya berjumlah enam orang. Nanti, pimpinan kami dari Kasubdit Penyidikan Perusakan Lingkungan, Kebakaran Hutan dan Lahan, Shaifuddin Akbar, beliau sekarang masih di Jakarta. Nanti berangkat pukul 19.45 WIB dengan pesawat Garuda. Berarti sampai di sini sekitar pukul 23.00 WIB,” jelas Ardi salah satu penyidik di kantor DLH Pessel.

Saat awak media mencoba konfirmasi lebih jauh, dirinya enggan berkomentar banyak dan menyarankan awak media langsung konfirmasi dengan pimpinan (Kasubdit) terkait hal itu.

“Bukan kami menolak untuk memberikan keterangan, namun yang lebih berkompeten itu adalah Kasubdit. Sebab, beliau pimpinan kami dalam rombongan ini, nanti gak enak pula sama beliau,” ujarnya sambil tersenyum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.