Datangi Myanmar, Paus dilarang sebut kata ‘Rohingya’

- Tweet this Article - Stumble this Article - Digg this Article - Share this Article -

Paus Fransiskus berkunjung ke Myanmar untuk menemui komunitas Katolik yang tinggal di negara tersebut. Paus terbang menggunakan pesawat charter Alitalia dan mendarat di Yangon hari ini. Rencananya dia akan menggelar misa di gereja setempat, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bangladesh.

Di sela-sela kunjungannya, Paus juga akan bertemu dengan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, kepala militer serta pemimpin biksu setempat. Selain itu, dia juga akan menyambut perwakilan muslim Rohingya di tengah isu pembersihan etnis yang tengah santer dilaporkan sejumlah pihak saat ini, termasuk PBB.

Dalam beberapa kesempatan, Paus telah sering mengucap doa yang mengharapkan keselamatan saudara laki-laki dan perempuan Rohingya di Myanmar. Namun, dalam kunjungan ke Myanmar kali ini, Paus didesak oleh Gereja Katolik setempat untuk menghindari penggunaan istilah ‘Rohingya’.

“Sebagai pemuka agama, khususnya pemimpin Katolik, dia pasti banyak melakukan hal baik. Tetapi tetap saja ada kekhawatiran dia salah bicara yang bisa menyebabkan orang beranggapan, ‘baiklah, orang ini telah ikut campur’,” kata seorang pengamat Myanmar yang juga mantan tahanan politik, Khin Zaw Win, dikutip dari laman AP News, Senin (27/11).

“Saya pikir, pertimbangan diplomasi itu perlu, selain tentu saja hubungan dengan masyarakat,” lanjutnya.

Meski demikian, Vatikan beberapa kali telah memberikan sinyal terkait kunjungan Paus. Juru bicara Vatikan juga tetap menggunakan istilah ‘Rohingya’ pada konferensi pers jelang lawatan Paus ke Myanmar dan menyebut itu bukan istilah yang dilarang.

Sebagaimana diketahui, Rohingya memang merupakan istilah yang dijauhi oleh masyarakat Myanmar karena kelompok etnis tersebut bukan minoritas yang diakui di negara tersebut. Pemerintah dan sebagian besar penduduk Buddha di Myanmar menganggap warga muslim Rohingya adalah imigran Bengali dari Bangladesh yang secara ilegal tinggal di negara itu, meski mereka telah tinggal sejak beberapa generasi.

Beragam reaksi juga diberikan oleh warga terkait penyebutan istilah ‘Rohingya’ ini. Banyak yang menilai bahwa Paus tidak seharusnya menyebut istilah itu demi menghargai masyarakat mayoritas.

“Ini merupakan masalah sulit karena istilah ‘Rohingya’ membawa begitu banyak beban politik terhadap seluruh masyarakat Myanmar,” kata seorang petani, Win Myaing.

“Perasaan saya mengatakan jika Paus membicarakan masalah Rakhine, maka akan banyak orang yang tidak lagi menyukainya,” tambahnya.

Artikel Terkait :

admin