Beginilah Israel bikin Palestina jadi penjara terbesar di bumi

Perang Enam Hari pada 1967 antara Israel dengan beberapa negara Arab menyebabkan Tepi Barat dan Jalur Gaza diduduki Israel.

Negeri Bintang Daud selama ini mengatakan kepada dunia perang itu terjadi karena ‘kebetulan saja’ atau ‘tidak disengaja’. Tapi dokumen sejarah terbaru memperlihatkan Israel sudah merencanakan perang itu dengan baik.

Pada 1963 sejumlah pejabat militer Israel, ahli hukum dan tata negara mendaftar untuk mengikuti kursus di Universitas Ibrani di Yerusalem. Mereka bermaksud membuat rencana lengkap soal pengaturan perbatasan di suatu wilayah dan mengelola satu setengah juta rakyat Palestina yang tinggal di dalamnya. Empat tahun kemudian Israel menduduki wilayah Palestina setelah Perang Enam Hari.

Pada Mei 1967, beberapa pekan sebelum Perang Enam Hari dimulai, sejumlah gubernur militer Israel menerima kiriman sejumlah kardus berisi berkas tata cara bagaimana mengelola kota dan desa Palestina secara militer. Israel akan membuat Tepi Barat dan Jalur Gaza menjadi penjara besar di bawah pengawasan dan aturan militer.

Sejarawan asal Israel Ilan Pappe mengatakan, pendudukan, pos pemeriksaan, dan hukuman massal adalah bagian dari rencana itu. Pappe menuangkan dokumen itu dalam buku terbarunya The Biggest Prison on Earth: A History of the Occupied Territories, sebuah catatan lengkap tentang pendudukan Israel di tanah Palestina.

Dilansir dari laman Middle East Eye, Jumat (24/11), buku yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan 50 tahun Perang Enam Hari itu masuk dalam daftar nominasi peraih penghargaan Palestine Book Awards 2017.

“Saya melihat keseluruhan proyek Zionisme ini sebagai sebuah struktur, bukan hanya satu peristiwa saja. Ini adalah struktur kolonialisme dengan menggerakkan para penduduk untuk menduduki sebuah wilayah,” kata dia dalam wawancara dengan Middle East Eye.

“Pada 1948 ada rencana yang jelas untuk mengusir sebanyak mungkin rakyat Palestina dari sebesar mungkin wilayah Palestina. Para kolonialis meyakini mereka punya kekuatan untuk menciptakan kawasan Yahudi di Palestina yang isinya tanpa orang Palestina sama sekali,” kata Pappe.

Sejak 1967 hingga sekarang, kata dia, ada upaya pembersihan etnis secara perlahan tapi jika dilihat secara keseluruhan sudah ratusan ribu rakyat Palestina dilarang kembali ke Tepi Barat atau Jalur Gaza.

Pappe menuturkan dia menggunakan istilah penjara terbuka di Tepi Barat dan penjara ketat di Jalur Gaza bagi rakyat Palestina.

“Saya menggunakan metafor itu untuk menjelaskan dua model pendudukan Israel di Palestina. Saya berkukuh menggunakan dua istilah ini karena menurut saya solusi dua negara sebetulnya adalah model penjara terbuka.”

Negara Israel, jelas Pappe, menguasai wilayah Palestina baik secara langsung maupun tidak. Mereka memecah Jalur Gaza menjadi bagian kecil-kecil pada 2005 dan mereka hingga kini masih membagi-bagi wilayah Tepi Barat. Sekarang sudah ada wilayah Yahudi di Tepi Barat dan wilayah Palestina di Tepi Barat dan keduanya terpisah di kawasan yang berbeda.

Di Gaza, Israel mengawasi dan menyekap warga Palestina dari dunia luar tapi mereka tidak ikut campur dengan apa yang terjadi di dalam.

“Tepi Barat itu semacam penjara terbuka. Anda menempatkan pesakitan yang diizinkan keluar dan bekerja di luar. Dan tidak ada rezim yang keras tapi tetap saja itu penjara. Bahkan Presiden Palestina Mahmud Abbas, jika dia mau pergi dari suatu tempat ke tempat lain, pintu keluar masuknya harus dibukakan oleh orang Israel.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.