Banyak data pribadi pengguna dan mitranya Uber kena retas

Perusahaan aplikasi transportasi, Uber, mengakui 57 juta data pengguna dan mitranya diretas hacker. Kejadian tersebut terjadi di tahun 2016. Setahun kemudian, Uber baru mengakuinya. Pengakuannya itu tertulis di dalam blog-nya.

Hacker mencuri data pribadi termasuk nama, alamat email dan nomor telepon, serta nama dan nomor lisensi pengemudi sebanyak 600.000 pengemudi di Amerika Serikat. Perusahaan mengatakan informasi yang lebih sensitif, seperti data lokasi, nomor kartu kredit, nomor rekening bank, nomor jaminan sosial, dan tanggal lahir, belum dikonfirmasikan.

Dilaporan The Guardian pada Rabu (22/11), tak tanggung-tanggung peretas juga meminta duit senilai USD 100.000 atau Rp 1,3 miliar bila data pelanggan dan para mitra Uber tetap aman. Tak ingin membuat gaduh publik, Uber pun akhirnya membayarnya.

Dalam pernyataan, CEO Uber, Dara Khosrowshahi menyampaikan, pembayaran yang dilakukan pihaknya kepada hacker, telah mendapatkan jaminan bahwa data tersebut telah dihancurkan.

“Tak satu pun dari ini seharusnya terjadi, dan saya tidak akan membuat alasan untuk tidak mengatakan hal itu. Saya tidak dapat menghapus masa lalu, namun saya dapat berkomitmen atas nama Uber bahwa kami akan belajar dari kesalahan,” kata dia.

Cara Uber menyimpan rapat-rapat ‘borok’ ini juga seperti cara yang pernah dilakukannya pada Mei 2014 silam. Kala itu, kejadiannya sama. Uber diretas. Peretasan ini menyebabkan 50 ribu informasi baik pengguna maupun mitranya ‘diculik’. Tak ingin publik tahu lebih dulu, mereka menyimpan rahasia itu dalam-dalam. Hingga akhirnya selama 8 bulan pasca kejadian, hal itu dibuka ke publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.