Gempa goncang Kota Painan

Walau hanya berkekuatan rendah dan tidak dirasakan oleh seluruh warga Painan Kabupaten Pesisir Selatan yang juga merupakan pusat gempa yang terjadi pada Minggu (17/12) malam, namun goncangan gempa tersebut dirasakan hingga ke Kota Padang.

Menurut informasi yang dihimpun dari BMKG menyebutkan info gempa Mag:4.6 SR, pada 17 Desember 2017 sekitar pukul 19:12:58 WIB, dengan lokasi : 1.81 LS,100.42 BT (54 km Selatan PAINAN-SUMBAR), serta dengan kedalaman :18 Km ::BMKG-PGR VI.

Hingga berita ini diturunkan dari hasil pantauan KabaSumbar melalui salah satu media sosial dari beberapa postingan warga daerah Painan tersebut terlihat dari komentar – komentar dipostingannya yang baru mengetahui setelah melihat adanya postingan gempa dari pemilik akun Media Sosial tersebut.

Penjemputan Wabup Pessel oleh Penyidik terhambat massa

Penyidik dari Mabes Polri dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) RI menunda pemeriksaan Wakil Bupati Pesisir Selatan (Wabup Pessel), Rusma Yul Anwar pasca dirinya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan perusakan Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Mandeh.

Ditundanya pemeriksaan pasangan dari Bupati Hendrajoni tersebut lantaran massa pendukung Rusma ‘mengepung’ halaman rumah dinas (rumdis) orang nomor dua di Pessel tersebut. Loyalis dari Wabup Pessel menolak pemimpinnya untuk dibawa oleh penyidik keluar dari Pesisir Selatan. Mereka sekuat tenaga mempertahankan sang wakil dari petugas. Sejak Kamis (16/11) malam jumlah massa yang datang ke kediaman Rusma bertambah.

“Pada dasarnya, beliau siap diperiksa. Hanya saja, massa yang mengetahui kedatangan petugas ke kediamannya langsung bergerak untuk menahan Wabup mereka dibawa pergi untuk dimintai keterangannya,” kata penasehat hukum Rusma Yul Anwar, Martri Gilang Rosadi, Jumat (17/11) di Mapolres Pessel.

Ia menyebut, massa pendukung Wabup Pessel tersebut tidak menginginkan pemeriksaan dilakukan diluar Pessel, apalagi sampai dibawa ke Jakarta.

“Massa pendukung khawatir, beliau akan langsung ditahan jika dibawa keluar dari Pessel,” tuturnya.

Dirinya juga menyoroti adanya kejanggalan dalam proses pemeriksaan Wabup Pessel tersebut. Martri beralasan bahwa Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) Rusma Yul Anwar dilayangkan ke Mako Satpol PP Pessel. Padahal, Satpol PP tidak memiliki kewenangan untuk hal tersebut.

Kedua, penetapan Rusma Yul Anwar sebagai tersangka tidak melalui surat penetapan. Bahkan, ia mengaku kliennya belum pernah menerima surat tersebut.

“Jadi, kami berfikir segala proses dalam kasus ini terkesan dipaksakan. Padahal klien kami sedang sakit,” sebutnya.

Dinyatakannya bersalah atau tidak Rusma Yul Anwar ia serahkan sepenuhnya di persidangan. “Karena saat ini status tersangka yang dialamatkan kepada beliau baru sekedar sangkaan. Biarkan saja majelis hakim yang membuktikan,” terangnya.

Sementara itu, Kapolres Pessel, AKBP Ferry Herlambang menjelaskan bahwa personel yang dikerahkan mengamankan kediaman Rusma Yul Anwar hanya untuk memfasilitasi tim penyidik dari Jakarta untuk menjemput Wabup Pessel.

“Pasalnya, massa sudah mengepung kediaman rumah dinas ini sehari sebelum datangnya penyidik. Tidak ada gesekan antara massa dengan petugas. Kami siap mengantisipasi seandainya terjadi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat,” tegasnya.

Pemilik sabu diringkus tim gabungan Polres Pessel

Atas informasi masyarakat, Zainul Arifin (53) warga Kampung Kapujan, Kecamatan Bayang pelaku penyalahgunaan narkoba jenis sabu, berhasil diringkus tim gabungan Polres Pesisir Selatan, Jumat (10/11).

Tim gabungan Polres Pesisir Selatan itu terdiri dari anggota Polsek Bayang, Polsek IV Jurai dan Opsnal Sat Res Narkoba Polres Pesisir Selatan.

Kapolres Pessel AKBP Fery Herlambang melalui Kasat Narkoba AKP Indra Sonedi mengatakan bahwa, Zainul Arifin diringkus dirumahnya. Pengungkapan ini berkat informasi dari masyarakat tentang adanya dugaan Zainul Arifin sebagai bandar narkoba.

“Dugaan masyarakat itu ternyata benar. Buktinya, saat diperiksa ditemukan satu paket kecil jenis sabu-sabu yang terbungkus dengan plastik klip bening yang terletak dalam saku celananya,” terang Indra.

Dijelaskan Indra, Zainul Arifin ditangkap setelah tiba dirumahnya, sepulang dari Kota Padang. Saat penangkapan berlangsung juga di saksikan langsung oleh Kepala Kampung dan Badan Permusyawaratan (Bamus).

“Atas barang bukti itu, Zainul Arifin langsung diamankan di Mapolres Pessel beserta barang bukti untuk penyelidikan lebih lanjut,” tegasnya.

Indra berharap, hal seperti ini bisa dijadikan sebagai pelajaran kepada masyarakat lainya. Agar jangan terlubat dan ikut menjadi pengedar atau pemakai Narkoba.

“Kami tidak akan pernah kompromi dengan penyalahgunaan Narkoba, baik itu bandar, pengedar maupun pemakai,” lebih ditegaskan Indra.

Hari kedua Operasi Zebra 2017, sebanyak 34 surat tilang datangi Pessel

Hari kedua pelaksanaan Operasi Zebra 2017, Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Pesisir Selatan mengeluarkan 34 bukti surat tindak pelanggaran (tilang) kepada pengendara sepeda motor. Selain itu, pihaknya juga mengamankan satu unit sepeda motor yang tidak memiliki kelengkapan surat berkendaraan, seperti Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Kasat Lantas Polres Pessel, Iptu Ganda Novidininggrat menyebut, pelanggaran yang mendominasi pada hari kedua operasi zebra adalah kelengkapan kendaraan. Kebanyakan para pengendara tidak menggunakan pelindung kepala (helm, red) dan memiliki surat kendaraan yang lengkap.

“Petugas kita di lapangan mengeluarkan 34 bukti surat tilang dan satu unit kendaraan roda dua juga diamankan karena tidak bisa membuktikan kelangkapan surat kendaraannya,” sebut Ganda.

Satlantas Polres Pessel fokuskan operasi secara acak dengan memburu pengendara yang melanggar secara kasat mata. Para pelanggar yang ditindak rata-rata tergolong masih remaja.

“Ada sekitar 10 orang anak-anak yang terbukti melanggar kita panggil dan kita beri teguran ringan serta bukti tilang terhadap orang tua mereka,” jelasnya.

Dia berharap, Operasi Zebra yang digelar oleh pihak kepolisian dan aparat gabungan bisa memberikan dampak dan efek jera kepada pelanggar lalu lintas. “Kami dari Sat Lantas Polres Pessel berharap pengendara lebih mengutamakan kesadaran dalam berkendara,” tutupnya.

Jelang TdS 2017, Pantai Carocok ‘Berhias’

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pesisir Selatan, Yunasri, Rabu (25/10) menyebut, segala kebutuhan yang telah dipersiapkan itu diantaranya, penyelesaian panggung utama Carocok Painan sebagai lokasi dimulainya perjalanan pebalap dan area untuk pembukaan TdS di daerah tersebut sudah dimatangkan.

“Persiapan dan penyelesaian lokasi start di pantai Carocok tengah kita lakukan bersama instansi terkait jelang TdS 2017. Dan sejauh ini masih berjalan lancar,” sebutnya.

Menurutnya, dalam iven TdS 2017 ini, Pemkab Pessel juga melakukan pembenahan untuk sejumlah rute yang digunakan sebagai lintasan etape II TdS di daerah itu. Diantaranya, memperbaiki jalan rusak serta persiapan pengaman rute dan tempat penginapan atlet.

“Persiapan rute daerah dilakukan Dinas PU setempat. Untuk rute jalan nasional kita koordinasikan dengan Dinas Prasjaltarkim Provinsi Sumbar. Pengamanan rute dan tempat menginap atlet, kita koordinasikan bersama Satpol PP, Polres dan juga Dishub Pessel,” terangnya.

Dengan adanya pelaksanaan start etape II TDS 2017 yang melewati Painan-Padang-Sawahlunto sepanjang 166 kilometer, dia berharap kesempatan ini bisa membawa nama harum untuk daerah tersebut, terutama untuk mengenalkan perkembangan pariwisata di daerah itu kepada wisatawan luar daerah.

“Sejauh ini, kita juga melakukan koordinasi dengan panitia pelaksana dari Kementerian Pariwisata. Mudah-mudahan etape II di Painan berjalan lancar dan sukses untuk Pessel,” tutupnya.

Iven Tour de Singkarak (TdS) 2017 dijadwalkan akan dilaksanakan mulai tanggal 18-26 November 2017 mendatang.

Tak hanya pantai Carocok, pantai Pinus Kapuah di Pessel juga indah

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesisir Selatan saat ini terus gencar dalam mempromosikan objek wisata nan mereka miliki. Salah satunya dengan mengenalkan potensi wisata alam Pantai Pinus di Kapuah Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan menjadi salah satu alternatif destinasi wisata, Selasa (26/10).

Pantai Pinus juga memiliki keindahan seperti pantai lainnya yang ada di Pessel, seperti Carocok. Selain rindang, sejuk banyaknya pohon Pinus membuat pantai ini siap menyambut kedatangan para wisatawan.

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Pessel Lisda Rawdha Hendrajoni saat dihubungi melalui melalui WhatsApp Messenger, Selasa (24/10) usai kunjungannya ke tempat tersebut mengatakan bahwa pihaknya juga akan terlibat dalam promosi Pantai Pinus agar lebih dikenal luas oleh masyarakat.

“Ke depan kegiatan seperti ini bisa dikemas dengan baik, penataan yang rapi dari awal agar mempunyai konsep jelas dan terarah. PAPINKA Festival yang diadakan di Pantai Pinus ini cukup positif untuk memperkenalkan potensi pariwisata di Kabupaten Pesisir Selatan, dengan berbagai iven yang ada,” ucapnya.

Agar keindahan dil ingkungan Pantai Pinus ini tetap sejuk dan bersih, perlu kesadaran dan saling menjaga kebersihaan, serta adanya fasilitas umum (fasum) memadai.

“Tentu dengan kerja bersama semua akan bisa terwujud dan berimbas kepada peningkatan perekonomian dan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” harapnya.

Ditjen Gakkum KLHK RI panggil saksi kerusakan kawasan Mandeh

Kasus perusakan sejumlah kawasan strategis di Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), tak lama lagi akan menemui titik terang. Pasalnya, Tim Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen Gakkum KLHK) kembali mengunjungi Pessel untuk melengkapi sejumlah berkas dan data di lapangan, yang disertai dengan pemanggilan ulang saksi terkait sejumlah kerusakan tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pessel, Nelly Armidha, membenarkan kedatangan rombongan itu ke Pessel, yang masih sekaitan dengan kerusakan yang terjadi di kawasan strategis Mandeh. Dari itu, pihak Ditjen Gakkum KLHK akan memanggil ulang saksi dan mengumpulkan kembali data-data sejumlah kerusakan di kawasan strategis Mandeh.

“Benar, sesuai informasi yang kita terima dari pihak Ditjen Gakkum KLHK. Mereka akan menginap di Pessel selama tiga hari, (Rabu sampai Sabtu). Tujuannya, sekaitan dengan pemanggilan ulang saksi dan melakukan peninjauan ke kawasan Mandeh,” sebut Nelly kepada awak media di kantornya, Kamis (19/10).

Lebih dijelaskannya, hingga saat ini kasus perusakan mandeh yang melibatkan sejumlah oknum pejabat tersebut, telah menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah publik. Malah informasi itu sudah sampai ke meja Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.

Oleh sebab itu, sesuai Surat Perintah Penyidikan (Sperindik) yang dikeluarkan pertengahan September lalu, kasus perusakan Mandeh merupakan agenda prioritas yang harus dituntaskan oleh Ditjen Gakkum KLHK.

“Pada intinya pihak Ditjen Gakkum KLHK benar-benar serius menangani kasus ini. Buktinya, masih tetap diupayakan pemanggilan ulang saksi untuk melengkapi sejumlah berkas dan bukti-bukti di lapangan. Namun, sampai saat pukul 18.00 WIB tadi, saksinya belum datang-datang juga,” sebut Nelly.

Lebih lanjut kata dia, pemanggilan ulang saksi yang dilakukan oleh pihak Tim Ditjen Gakkum KLHK adalah untuk memastikan dan menyamakan persepsi. Seperti, yang disampaikan saksi beberapa waktu lalu. Sebab, dari keterangan saksi sebelumnya, masih banyak ditemui sejumlah kejanggalan yang tak sesuai dengan data dan fakta di lapangan.

“Kalau saksi tidak datang hari ini (Rabu), berarti dia sendiri yang akan merugi nantinya. Pada saat-saat seperti inilah, seharusnya saksi hadir dan memberikan keterangan sesuai dengan fakta di lapangan, guna untuk kebaikan mereka juga,” katanya.

Informasi dihimpun awak di lapangan, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum dari Kementarian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut, diketahui sampai di Kantor DLH Pessel sekitar pukul 15.00 WIB. Namun, rombongan yang awalnya dikabarkan akan datang sebanyak enam orang itu, yang datang hanya tiga orang saja, dan salah satunya adalah perempuan.

“Kami dari Direktorat Jenderal Penegakan Hukum dari Kementarian Lingkungan Hidup dan Kehutanan semuanya berjumlah enam orang. Nanti, pimpinan kami dari Kasubdit Penyidikan Perusakan Lingkungan, Kebakaran Hutan dan Lahan, Shaifuddin Akbar, beliau sekarang masih di Jakarta. Nanti berangkat pukul 19.45 WIB dengan pesawat Garuda. Berarti sampai di sini sekitar pukul 23.00 WIB,” jelas Ardi salah satu penyidik di kantor DLH Pessel.

Saat awak media mencoba konfirmasi lebih jauh, dirinya enggan berkomentar banyak dan menyarankan awak media langsung konfirmasi dengan pimpinan (Kasubdit) terkait hal itu.

“Bukan kami menolak untuk memberikan keterangan, namun yang lebih berkompeten itu adalah Kasubdit. Sebab, beliau pimpinan kami dalam rombongan ini, nanti gak enak pula sama beliau,” ujarnya sambil tersenyum.